Majelis Persaudaraan Manusia Perdana Mengumpulkan Para Pemimpin Dunia di Abu Dhabi

ABU DHABI, 4 Februari 2024 (WAM) - Majelis Persaudaraan Manusia perdana berhasil ditutup hari ini di Rumah Keluarga Abraham di Abu Dhabi, UEA, setelah mempertemukan para pemimpin dunia untuk memperkuat komitmen kolektif mereka terhadap perdamaian dan persatuan global

Diselenggarakan oleh Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM), Kementerian Toleransi dan Hidup Berdampingan dan Komite Tinggi Persaudaraan Manusia, acara penting ini memperingati ulang tahun kelima Dokumen Persaudaraan Manusia, yang ditandatangani bersama oleh Yang Mulia Dr. Ahmed Al-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, dan Yang Mulia Paus Fransiskus.

Dengan menghadirkan para pemimpin global, pejabat internasional, dan suara-suara berpengaruh dari berbagai sektor, Majlis ini berhasil mendorong dialog dan pertukaran ide yang berfokus pada pentingnya solidaritas manusia dan penciptaan masa depan yang berkelanjutan. Pertemuan tahun ini memberikan penekanan khusus pada pemberdayaan kaum muda dan perempuan, mengakui peran penting mereka dalam mempromosikan prinsip-prinsip persaudaraan dan solidaritas.

Berkaca pada pencapaian hari itu, Sekretaris Jenderal Komite Tinggi Persaudaraan Manusia yang baru saja diangkat, Khaled Ghanim Al Ghaith mengatakan, "Pertemuan hari ini merupakan bukti mendalam atas komitmen kolektif kami untuk membina persaudaraan manusia. Diskusi yang menarik dan wawasan yang dibagikan menggarisbawahi urgensi misi kami untuk membangun jembatan perdamaian dan pemahaman di seluruh komunitas yang beragam. Melalui upaya bersama seperti itulah kita dapat membuka jalan menuju dunia yang lebih welas asih dan inklusif."

Sebelum ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Komite Tinggi Persaudaraan Manusia, Al Ghaith telah menduduki berbagai posisi diplomatik di pemerintahan, mulai dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Malaysia, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Brunei, dan Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Ekonomi.

Al Ghaith mengatakan, "Kami memahami hari ini lebih dari sebelumnya, bahwa promosi persaudaraan manusia muncul sebagai upaya yang sangat penting. Melalui pekerjaan saya di Komite Tinggi Persaudaraan Manusia, saya berharap dapat mendorong individu dan masyarakat untuk merangkul keragaman, menumbuhkan pemahaman, dan membangun jembatan melintasi kesenjangan budaya, agama, dan sosial."

Majlis Persaudaraan Manusia menampilkan sesi yang penuh wawasan tentang pengelolaan lingkungan secara kolaboratif, pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan, dan peran kaum muda dalam mempromosikan persatuan dan keragaman. Diskusi-diskusi ini tidak hanya menyoroti tantangan yang dihadapi oleh komunitas global tetapi juga menampilkan solusi inovatif dan komitmen untuk bertindak.